• Pendidikan Bahasa Indonesia | Website Resmi Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia UNIMUDA Sorong

Pendampingan Buta Aksara Sebagai Gerakan Literasi di Kampung Sagu oleh Mahasiswa Semester I Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNIMUDA Sorong

Pendampingan Buta Aksara Sebagai Gerakan Literasi di Kampung Sagu oleh Mahasiswa Semester I Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNIMUDA Sorong

Sorong, 14 Februari 2020 Kampung Sagu Kec. Aimas Kab. Sorong Prov. Papua Barat merupakan salah satu kampong yang menjadi sasaran pendampingan buta aksara sebagai gerakan literasi oleh mahasiswa semester satu (I) prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNIMUDA Sorong. Beberapa hal yang menjadi penyebab buta aksara di kampung Sagu tersebut karena layanan pendidikan yang sulit dijangkau, tingkat kesadaran dan motivasi belajar warga yang masih rendah, dan kurangnya perhatian dari pemerintah. kegiatan pendampingan buta aksara ini berbasis gerakan literasi. Model pelaksanaannya diajarkan kepada anak-anak kampung sagu dengan materi yang disamaikan berupa pengenalan huruf abjad vocal, konsonan, menulis, dan menghitung. Kegiatan berlangsung selama 4 jam mulai pukul 09.00-12.00 WIT.

4 jam merupakan waktu yang sangat singkat tetapi pendampingan ini sangat berkesan dan membuat  anak-anak di kampong sagu merasa senang dan gembira dengan gaya belajar yang diajarkan oleh mahasiswa, karena pembelajaranya sangat menyenangkan bahkan mahasiswa yang melaksanakan pendampingan pun senang dan tertarik dalam proses pendampingan. Isni Irna Jaya selaku salah satu mahasiswa menyampaikan bahwa dirinya senang dan bangga dengan anak-anak kampung Sagu “saya sangat senang dan bangga dengan anak-anak kampung Sagu karena mereka tidak malu-malu mengikuti proses pendampingan, bahkan mereka cepat sekali beradaptasi dengan kami mahasiswa” tutur Isna.

Nouval Rumaf, M.Pd. sebagai dosen sekaligus sekretaris prodi Pendidikan Bahasa Indonesia juga turut hadir dalam kunjungan dan pendampingan tersebut, sehingga beliau mengamati secara langsung suasana pendampingan. Saat dimintai keterangan beliau menyampaikan bahwa, anak-anak kampong sagu itu bisa pintar kalau mereka difasalitasi untuk belajar.

 “sebenarnya anak-anak kampung Sagu bisa pintar dan memiliki kemauan untuk belajar dan sekolah, namun kurangnya kesadaran orang tua dan kurangnya perhatian dari pemerintah, sehingga anak-anak tidak mendapatkan pendidikan yang layak. Tutur Nouval

Mahasiswa berkomitmen untuk kegiatan pendampingan ini akan terus diupayakan agar tetap dilaksanakan sampai anak-anak kampung Sagu bisa membaca, menulis dan menghitung. (NRF)

Top